Mas Ahmat, adalah Pengasuh Padepokan Kefitrahan yang mengawali debutnya di dunia spiritual, khususnya di Daerah Istimewa Yogyakarta, sejak menjelang akhir tahun 2004 dengan menjadi nara sumber acara spiritual di salah satu stasiun radio swasta (yang sudah kondang dengan acaranya Yasikramat) di Yogyakarta.
Mas Ahmat mulai mempelajari Kefitrahan bermula dengan menjadi murid di perguruan bela diri bernama, Pemusatan Tenaga Dalam ‘BELA DIRI BUDI SEJATI’ (BBS) yang terdaftar sebagai anggota IPSI propinsi Irian Jaya.
Guru Besar BBS yang berpusat di Kabupaten Jayapura Propinsi Irian Jaya, Pada pertengahan tahun 1996 mulai mengembangkan BBS ke daerah Irian Jaya yang lainnya yaitu di kabupaten Biak Numfor, ternyata animo masyarakat di kabupaten Biak Numfor terhadap BBS amatlah besar, dari berbagai kalangan dan lapisan masyarakat serta instansi di jajaran pemerintahan maupun swasta turut bergabung menjadi murid dari BBS, dan juga tidak ketinggalan personel ABRI (AD, AL, AU, Kepolisian), karyawan perbankan, karyawan HPH, karyawan maskapai penerbangan, karyawan PELNI, juga masyarakat umum.
Pada awal mula berlatih di BBS, mas ahmat adalah murid yang biasa-biasa saja, terkesan tidak ada yang menonjol pada diri, akan tetapi setelah berlatih kurang lebih selama satu bulan (8 kali latihan) kemampuan mas ahmat amatlah tidak terkontrol, bahkan mampu melakukan berbagai hal yang sebelumnya tidak pernah terpikirkan dan belum pernah dilakukan, semakin hari kempuan serta pengalaman mas ahmat semakin bertambah dan meningkat, hal tersebut tidaklah lepas dari pantauan guru besar (Bp PURWADI).
Sejak awal berlatih, mas ahmat tidak pernah membayangkan bagaimana rasanya punya pengalaman dan kemampuan yang berhubungan dengan spiritual, akan tetapi sejak perama kali berlatih, yang ada didalam benak adalah sebuah pertanyaan yang amat besar tapi sepele sekali, pertanyaan itu adalah ” Apa benar kalo seseorang yang mempelajari kegiatan semacam ini, terus ibadahnya di tingkatkan maka akan dapat membantu meningkatkan kemampuan dalam berlatih…? “, oleh mas Ahmat, pertanyaan itu tidak hanya dipikirkan atau malah dibuang jauh-jauh, akan tetapi justru dengan adanya pertanyan tersebut, maka ditindak lanjutilah pertanyaan itu dengan lebih meningkatkan segala bentuk ibadahnya (shalat 5 waktu on time plus shalat sunatnya, membaca AL’QURAN dan memperbanyak zikir serta wirid istigfar setiap selesai shalat wajib dan sunat, shalat hajat sebelum tidur, shalat tahajjud tidak pernah absen dan langsung mengaji serta zikir dan juga wirid istighfar, hingga subuh tiba begitu terus menerus seraya terus berdoa dan memohon kapada yang ESA agar berkenan meridhoi apa yang mas Ahmat lakukan, serta memohon agar terhindar dari musibah/bencana, dan juga meminta agar diberikan cobaan/ujian agar mas Ahmat untuk dapat meningkatkan keimanan dan ketakwaan, serta tak lupa bisa bersikap ikhlas dan tawakkal, selain dari doa-doa tersebut yang selalu dibaca setiap shalat hajat, ada satu lagi doa yang mas Ahmat panjatkan kepada Sang Khalik yaitu, meminta agar kiranya sudi memberikan karomah seperti yang pernah diberikannya kepada Nabi Muhammad SAW dan Nabi serta Rasulnya .
Berbagai pengalaman spiritual banyak dialami mas ahmat pada saat itu, akan tetapi mas ahmat tidak pernah takkabur, atau bahkan menceritakan semua pengalaman-pengalaman yang dialaminya pada setiap orang, hal tersebut tidak dilakukannya karena menurut mas ahmat, hal itu bukanlah suatu hal yang patut diceritakan pada orang banyak dan lagi justru akan membuat suasana menjadi tidak enak pada saat itu, dan orang yang tepat untuk menceritakan semua pengalaman spiritual yang dialaminya adalah guru besar.
Dari hari ke hari, guru besar selalu mengamati perkembangan mas ahmat, baik secara keilmuan fisik, kemampuan secara non fisik dan lebih mengamati mas Ahmat karena pengalaman spiritual yang dialami, bahkan setiap kali latihan bersama dilapangan dan kemudian ada murid yang bertanya maka, mas Ahmatlah yang selalu dapat menjawab setiap pertanyaan yang di tanyakan oleh murid-murid, dan setiap jawaban- jawaban mas Ahmat yang tanpa melihat buku panduan murid BBS ( karena memana tidak ada) selalu dapat diterima oleh rekan-rekan seperguruan, pada puncaknya suatu hari, ketika dilapangan setelah selesai latihan guru besar berakta perbedaannya mas Ahmat dengan Bp Purwadi/guru besar, ” siapa yang tahu bedanya saya/guru besar dengan Ahmat…?” tidak ada yang bisa menjawab, tidak lama lalu guru besar berkata, jawabannya adalah “kalo saya/guru besar yang punya ilmu/ yang mengajarkan kepada kalian ,maka Ahmatlah yang mampu menjelaskannya, ibarat pintu dengan kuncinya, dan lagi guru besar berkata “Ahmat mampu melakukan sepeti yang murid-murid lainnya lakukan, akan tetapi mereka belum tentu dapat melakukan seperti yang Ahmat lakukan”, setelah saat itu maka dimana ada guru besar maka disitulah mas Ahmat berada.
Mas Ahmat pada kegiatan tersebut bertindak selaku Pelatih Inti sekaligus asisten langsung dari Guru Besar Perguruan Bela Diri ‘Budi Sejati’ Pemusatan Tenaga Dalam sampai akhirnya harus pindah ke Solo.
Hingga kini kembali menggeluti dunia spiritual di Yogyakarta sejak Oktober 2004 sampai saat ini, dan mendirikan PADEPOKAN KEFITRAHAN, serta mengukuhkan dirinya sebagai PENGASUH dari padepokan tersebut dengan sebutan MH (Mas Haji) Ahmat, selain mengasuh rubrik ini, MH Ahmat juga Konsultan Spiritual Dan Filsafat Kefitrahan, dan Onliner Marketing Bussines, pokoke dunia akherat lancar coiii……!!!
Bisa dihubungi di 081 711 2076 atau email srimahamat@gmail.com.